REVIEW Ayah | Andrea Hirata

 

Sumber gambar: https://id.pinterest.com


Judul: Ayah
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka
ISBN: 978-602-291-102-9
Jumlah halaman: xx + 412 halaman

Siapa yang nggak kenal sama Andrea Hirata? Aku jamin kalian udah pada kenal sama penulis novel Laskar Pelangi ini๐Ÿ˜‰

Sebelum bahas isinya, aku mau cerita sedikit, nih. Waktu baca seratus halaman pertama novel ini, aku merasa nggak akan sanggup baca sampai halaman terakhir. Kenapa? Sebab alurnya agak sulit dipahami. Satu bab menceritakan tentang Sabari. Kemudian bab selanjutnya menceritakan tentang seorang anak bernama Amiru. Terus-menerus seperti itu dan aku nggak bisa menyimpulkan hubungan kedua tokoh tersebut.

Fix, aku pusing. Balikin aja, deh!

Saat itu aku inget pesan salah satu penulis senior. Pesannya kira-kira seperti ini, "Bacalah buku dengan tuntas sampai halaman terakhir. Maka kau akan benar-benar paham apa yang ingin disampaikan oleh penulis."

Selain itu aku juga berfikir. Kalau kita belum membaca sampai halaman terakhir, tapi sudah berani mengambil kesimpulan sama saja dengan orang yang tergesa-gesa dalam mendengar berita. Kalian pasti tahu 'kan hal itu merupakan salah satu sebab tersebarnya berita bohong? Bahaya!

Akhirnya aku coba baca lagi. Enggak terasa tiga ratus halaman aku selesaikan hari itu. Sebab ceritanya yang luar biasa .... Amazing!

Sabari adalah tokoh sentral dalam novel ini. Ya, seperti namanya, Sabari mempunyai kesabaran tingkat akut. Lugu, rajin, dan pekerja keras. Mencipta puisi adalah keahliannya. Tidak rupawan secara fisik, tapi memiliki hati yang mulia.

Menginjak remaja, sahabat-sahabatnya, Ukun dan Tamat seringkali dilanda asmara masa remaja. Namun, tidak dengan Sabari. Ia bahkan tidak pernah tertarik dengan perempuan manapun. Sebut saja Sabari anti dengan yang namanya 'cinta'.

Semua berubah sejak Lena, atau lengkapnya Marlena mengambil kertas jawaban tes Bahasa Indonesia milik Sabari, saat seleksi masuk SMA. Gadis itu seketika mengambil kendali hatinya. Purnama kedua belas, begitu Sabari memanggil pemilik manik mata yang binarnya bak bulan purnama.

Satu SMA dengan Lena membuat Sabari bahagia luar biasa. Ia berusaha untuk mengambil hati Lena. Dimulai dengan sering mengirim puisi dan surat untuk perempuan itu. Namun, Lena tak pernah merespon.

Tak patah semangat, Sabari melakukan segala cara untuk menarik perhatian Lena. Melalui temannya, Zuraida, Sabari mencari informasi hal apa saja yang disukai Lena.
Belajar kaligrafi, masuk tim paskibra, bahkan menjadi tukang gulung kabel di band sekolah ia dijalani demi sang pujaan hati.

Malangnya, semua prestasi itu membuat Lena semakin membenci Sabari.

Pernah suatu ketika Sabari membetulkan contekan Lena dan Bogel Leboi yang ditulis di meja mereka. Tapi yang terjadi ia bukannya membetulkan malah menjadikan salah. Untuk menebus kesalahannya, atas saran Ukun dan Tamat, Sabari meminta maaf lewat siaran radio sekaligus menyajikan lagu "Truly" di acara live show radio tersebut.

Selepas SMA, Sabari berserta sahabat-sahabatnya merantau ke Ujung Tandon. Alih-alih melupakan Lena, Sabari justru semakin disiksa kerinduan yang mendalam.

Sabari pulang ke kampung halamannya di Belantik, lalu diterima bekerja di pabrik batako milik Markoni, ayah Lena. Tentu hal ini dilakukannya agar bisa melihat wajah Lena hampir setiap hari meski sekilas. Bagi Sabari itu sudah cukup untuk membuatnya gembira.

Sabari tahu Lena menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Ia sering melihat Lena diantar pulang oleh kekasihnya. Cemburu tentu, tapi asalkan melihat sang pujaan hati bahagia ia rela.

Hingga 'peristiwa di luar rencana' menimpa Lena. Markoni harus melakukan sesuatu untuk menjaga nama baik keluarga. Saat itulah Sabari menumbalkan dirinya.

Bersanding dengan wanita yang diidam-idamkannya adalah kebahagiaan tak terkira untuknya. Hingga Ukun dan Tamat iri dengan nasib baik yang menimpa sahabatnya. Sebaliknya, tak ada kebahagiaan yang dirasakan Lena bahkan meski sudah menikah, ia tak mau tinggal serumah.

Saat yang dinanti tiba, Lena melahirkan seorang bayi laki-laki. Sabari menamainya Zorro. Sejak masih merah Zorro berada dalam pengasuhan Sabari. Sementara Lena kembali ke hobi lamanya, bepergian entah kemana.

Sabari berhenti bekerja di pabrik batako karena harus mengurus Zorro. Untuk menyambung hidup Sabari membuka warung di depan rumahnya.

Baginya, Zorro adalah anak kandungnya yang ia beri cinta layaknya seorang ayah. Setiap malam Sabari selalu menyitir puisi dan bercerita untuk putranya. Semua orang di kampung menyayangi Zorro. Tak terkecuali dua sahabatnya, Ukun dan Tamat.

Hal tak terduga terjadi. Lena menggugat cerai Sabari. Juga mengambil Zorro darinya.

Apa yang dirasakan seorang ayah ketika harus dipisahkan dengan anak yang dibesarkan penuh cinta?

Itulah yang dirasakan Sabari. Hancur. Tahun-tahun awal ia sanggup bertahan. Namun kesedihan menggerogoti semangat hidupnya. Sabari mulai gila.

Setelah bercerai dengan Sabari, Lena menikah dengan seorang pemilik dealer motor vespa. Namun, pernikahan ini tak bertahan lama.

Rupanya bepisah dengan Sabari membuat Markoni marah luar biasa dengan keputusan Lena. Situasi yang justru disikapi Lena dengan pergi meninggalkan kampung halamannya.

Bersama Zorro, Lena pindah ke Bengkulu dan menikah dengan Manikam. Hidup bersuamikan lelaki mapan malah membuat Lena didera kebosanan. Pernikahan ini pun kandas.

JonPijareli, seorang musisi daerah di Sumatera menjadi suami Lena berikutnya. Mereka hidup bahagia sebagai sebuah keluarga. Namun, ketidak setiaan Jon membuat Lena melayangkan gugatan cerai.

Pasca bercerai, Lena dan Zorro hidup tak menentu. Nasib seolah telah mempermainkan kedua orang ini. Tinggal di jalanan. Berpindah-pindah. Lena bekerja apa saja untuk menopang hidup. Sedangkan Zorro berkali-kali pindah sekolah.

Ah, Zorro anak itu pandai dalam pelajaran Bahasa Indonesia, seperti sang ayah, Sabari. Selain itu ia juga ahli membuat puisi.

Sabari pernah menceritakan tentang Kisah Keluarga Langit dan Nyanyian Merayu Awan yang ternyata tanpa sadar dihafal oleh Zorro.

Langit adalah sebuah keluarga. Anaknya ada dua, Angin dan Awan. Ayahnya Matahari. Ibunya Bulan.

Angin senang berkeliaran sesukanya, melesat ke selatan, menggoda ilalang, berputar di atas ombak, terlambung tinggi ke angkasa, lalu berpencar ke delapan penjuru.
Jika sore, ayahnya, Matahari, memanggilnya dan kita mendapat senja yang indah. Jika malam, Angin berhembus karena Bulan memeluk anak bungsunya.

Awan adalah anak perempuan yang suka bersedih. Oleh karena itu, manusia bisa mengajak Awan bercakap-cakap. Jika awan gelap dan manusia tidak meninginkan hujan, Awan bisa dibujuk. Berhentilah sejenak di mana pun kau berada, tataplah Awan dan berbicaralah dengannya agar dia menunggu sebentar saja sampai engkau sampai di rumah.

Akan tetapi, kau hanya bisa membujuk Awan dengan puisi dan puisi itu harus dinyanyikan. Seperti ini nyanyiannya.

Wahai Awan
Aku ingin sekolah, janganlah dulu kau turunkan hujan
Ajaklah Angin, untuk menerbangkanmu ke selatan
Wahai Awan
Janganlah dulu kau turunkan hujan
Wahai Awan, kuterbangkan layang-layang untukmu

(hal. 259-260)

Apakah Sabari akan bertemu kembali dengan Zorro? Bagaimana dengan cintanya pada Lena? Masihkah tersisa?
Lalu, siapa anak bernama Amiru?

Selami kisah mereka dalam novel Ayah karya Andrea Hirata. Dijamin seru, euyy!๐Ÿ˜‰

Oh ya, ini novel memoar ya, artinya diangkat dari kisah nyata.

NB: Novel ini aku pinjam dari Ipusnas


Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW Si Anak Pelangi (Tere Liye)

Pengalaman Pertama Naik Bus Transjogja