REVIEW Hanum & Rangga: Faith & the City


Sumber gambar: ebooks.gramedia.com


Judul: Hanum & Rangga: Faith & the City

Penulis: Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-602-06-1863-0

Blurb:

Hanum dan Rangga hendak meninggalkan New York usai menyelesaikan tugas mereka masing-masing. Pulang ke Wina, Austria, mengukir lembaran hidup baru sebagai suami-istri yang saling mendukung dalam karier dan profesi, meski keturunan belum hadir.

Cooper, seorang yang kharismatik dalam dunia media televisi, tiba-tiba hadir dalam kehidupan Hanum. Sosok idola yang selama ini menhadi inspirasinya berkarier, menawarkan sebuah tantangan yang tak datang dua kali.

Tak pelak, Rangga pun terlantar di New York. Baik cita pada impian kembali ke Wina, maupun cintanya. Hingga hadirlah Azima Hussein dan putrinya Sarah, sosok anak yang selama ini didambakan Rangga. Lucu dan selalu bisa menemani Rangga yang kesepian.

Di setiap lembaga, selalu ada dilema. Termasuk dalam lembaga pernikahan. Karier atau keluarga? Sebuah pertanyaan yang sering dialamanatkan pada pasutri. Menyisakan harapan, mengapa tiada pernyataan: karier ... dan keluarga!

Siapakah pemenang dalam "pertempuran" ini? Hanum? Rangga? Faith? City?

Atau ... tiada yang kalah. Pun tiada pemenang ....


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Hanum & Rangga: Faith & the City bisa dibilang merupakan kelanjutan dari Bulan Terbelah di Langit Amerika, tapi kedua novel ini mengangkat topik yang berbeda. Hanum & Rangga: Faith & the City bercerita lebih dalam tentang hubungan kedua tokoh utama, Hanum dan Rangga.

Usai acara Awarding Night: Hero of The Year Phillipus Brown dan Azima Hussein menjadi incaran media yang mengingikan mereka mengulik kembali peristiwa Selasa hitam, 11/9/2001 demi menaikkan rating dan share. Tak terkecuali ketua redaksi GNTV yang rela menghalalkan segala cara demi apa yang diinginkannya. 

Andy Cooper, sosok yang sangat diidolakan Hanum tiba-tiba mencegat Hanum dan Rangga yang hendak pulang ke Wina di Bandara JFK dengan menyodorkan surat kontrak pelatihan tiga minggu di GNTV. Tanpa sepersetujuan suaminya, Hanum langsung mengiyakan tawaran Cooper tersebut. Di sinilah awal "pertempuran" antara faith (iman) dan the city (kota New York).

Tiga minggu. Waktu yang benar-benar dimanfaatkan Hanum untuk menggapai cita-citanya. Bersama rekannya, Sam ia membangun Insight Muslims, sebuah program TV yang mengangkat kehidupan muslim di Amerika. Jatuh bangun mereka jalani demi mengejar rating dan share sesuai permintaan bos mereka, Cooper.

Di sisi lain, Rangga terlantar di New York. Di kota yang menawarkan kemegahan sekaligus kepalsuan. Di kota yang telah menjebak istrinya dengan segala muslihatnya.

Untunglah, sahabat barunya, Brown, memberinya pekerjaan untuk menjadi penjaga perpustakaan miliknya. Di sana Rangga bergelut dengan tumpukan jurnal dan manuskrip sebagai bahan penelitiannya untuk menulis buku. Buku yang sebenarnya hanya mampu ditulis oleh Hanum.

Di perpustakaan yang sepi itu Hanum menjumpai Rangga bersama Azima. Terburu-buru mengambil kesimpulan hanya berdasar apa yang dilihat, membuat Hanum seketika dibakar api cemburu. Keadaan yang memperparah hubungannya dengan Rangga yang sudah merenggang sejak ia bekerja di GNTV.

Ketika Rangga hendak terbang ke Wina untuk mengejar gelar Ph.D-nya sebelum hangus, Hanum masih berjuang membangun impiannya di New York. Tunggu! Benarkah ia mengejar mimpi? Atau ... ambisi? Ambisi untuk menaklukan New York. Ambisi untuk dilihat dunia.

"Dunia hanyalah permainan dan senda gurau

Tempat untuk bermegah, berbangga di antara kamu

Semua akan tampak indah seperti tanaman yang tersapu hujan,

Tapi kemudian mengering hingga kuning kerontang

Dan semua hanyalah kesenangan yang menipu."

(QS. Al-Hadid: 20) 

Dunia telah menipu Hanum. New York telah menutup matanya dengan iming-iming kesenangan hidup. Beruntung, Tuhan menyelamatkannya sebelum ia benar-benar kehilangan "harta" yang paling berharga.

Novel ini benar-benar menyadarkan tentang arti hidup di dunia yang fana ini. Dunia yang telah menidurkan kita dalam buaian mimpi-mimpi khayalnya. Ketika kita terbangun, semua itu hanyalah ilusi.

"Dan kejarlah apa yang telah dianugerahkan Allah

kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat,

dan janganlah kamu melupakan (melenakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan) dunia ...."

(QS. Al-Qashshas: 77)

Dunia atau "dunya" dalam bahasa Arab secara harfiah berarti "rendah" dan "dekat". Rendah dan dekat seperti bayangan kita sendiri; semakin kita kejar, semakin lari menjauh, semakin membuat kita lelah. Itulah dunia. Karena pada akhirnya tidak ada satu pun yang benar-benar bisa kita genggam di dunia fana ini.

.... Sungguh bukanlah Tuhan mengharamkan kenikmatan dunia untuk kita reguk. Firman-Nya pun jelas, Kejarlah akhirat dan janganlah "lupakan" duniamu. Perintah untuk tidak melupakan dunia, namun sekaligus peringatan untuk tidak dilenakan dunia. (hal. 222-223)

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW Si Anak Pelangi (Tere Liye)

Pengalaman Pertama Naik Bus Transjogja

REVIEW Ayah | Andrea Hirata