REVIEW & QUOTES Bulan Nararya
Sumber gambar: www.kompasiana.com
Judul: Bulan Nararya
Penulis: Sinta Yudisia
Penerbit: Indiva Media Kreasi Group
Tahun terbit: 2014
ISBN: 978-602-1614-33-4
Jumlah halaman: 256 hlm
Nararya namanya, seorang terapis yang akrab di mata para penderita skizoprenia. Lewat tokoh ini, penulis mengungkap sisi lain kehidupan orang-orang yang terabaikan. Orang-orang yang tersisih dari dunia yang kejam. Lalu, terjebak dalam dunia yang diciptakannya sendiri.
Novel psikologi yang berhasil menghadirkan pengalaman dan petualangan yang luar biasa. Di mana sang tokoh utama mengupayakan dukungan moril, bukan hanya materil agar penderita gangguan mental mampu menerima diri mereka sebagai pribadi yang utuh jiwa dan raga.
Hidup tak selalu indah, itulah kiranya salah satu pesan yang ingin disampaikan penulis. Sebagai terapis, kehidupan Nararya juga tak mulus. Apalagi masalah yang dihadapinya berhubungan dengan rekan kerja sesama terapis. Memilih mengesampingkan urusan pribadi demi profesionalitas menjebaknya dalam kubangan lara yang tak kunjung usai.
Pada akhirnya, Nararya tegar menghantam setiap luka. Merelakan takdir yang telah Tuhan gariskan. Dan, mensyukuri semua yang masih tersisa. Nararya menjelma bulan. Senantiasa menyinarkan kebaikan.
Overall, bagus banget. Sejak awal aku sudah merasakan kedekatan dengan tokoh Nararya. Ceritanya yang mengalir membuat kita merasa betah ketika membaca. Jujur, bahkan aku tak ingin cerita ini berakhir saking menikmati setiap suguhan kisahnya.
Sinta Yudisia, penulis berlatar belakang psikolog mengemas cerita ini dengan apik. Menggunakan bahasa yang puitis, namun mudah dipahami.
Ketika membaca aku mencatat beberapa quotes 'bergizi'. Silakan dibaca, ya. Semoga bermanfaat💖
"Teori hanya sekadar menyederhanakan fakta." (hal. 86)
Bahasa merupakan ciri khas kognisi tingkat tinggi, dan keteraturan berbahasa menunjukkan kemampuan pengendalian diri. Orang yang lepas kendali tidak mampu berbahasa dengan baik, secara tata kalimat atau saat berkomunikasi. (hal. 91)
"Tak usah mencari apa makna yang tersirat."
"Kesukaanmu mencari apa yang tersembunyi di belakang, akan menyulitkan. Pakai saja konsep here and now. Apa yang ada di hadapanmu, itu saja." (hal. 93)
Selalu berpijak di alam khayal dapat mematikan rasio, menumpulkan kewarasan, dan akhirnya tenggelam dalam ilusi. (hal. 94)
"Kamu terapis? Ya! tapi kalau nggak mampu mengatasi persoalan pribadi, bukan dosa ketika meminta bantuan orang lain. Di sisi lain, hanya kita yang tahu kekuatan diri sendiri. Kamu harus bangkit. Move on! Sekarang, atau terlambat." (hal. 101)
Para pemabuk adalah orang-orang dengan hati rapuh dan sensitif yang kadangkala demikian peka, demikian emosional. Tapi, kemampuan mereka menghadapi pahitnya realita tak seberapa bagus hingga melarikan diri, melakukan pengalihan. (hal. 116)
Dalam beberapa tes psikologi seperti Thematic Apperception Test, salah satu yang sangat berpengaruh adalah intuisi sang terapis. Intuisi dapat diasah dengan melatih observasi, terus mengamati perilaku orang lain, merenungkan makna hidup. Pendek kata, segala yang berkaitan dengan naluri dipertajam. (hal. 157)
Luangkan waktu untuk benar-benar beristirahat, bukan untuk bekerja. (hal. 223)
"Kita boleh sembunyi dari ingatan. Suatu ketika memori buruk itu harus kita hantam." (hal. 224)
"Ibarat imunitas, manusia perlu disuntik virus tertentu. Tubuhnya akan membentuk antibodi. Jika suatu saat terpapar lagi, tubuhnya lebih kuat mengantisipasi. Begitupun kepribadian kita. Coba nikmati setiap rasa sakit agar perasaan-ingatan-pengetahuan kita belajar dari apa yang terjadi. Kepribadian menjadi kuat, dan kita siap dengan periode yang akan datang." (hal. 225)
Sebagai terapis, engkau akan mudah memberikan saran pada orang lain. Manusia selalu punya warak superior, enggan direndahkan dan dianggap tak mampu. Maka, manusia selalu membenci nasihat, dan suka berkata, 'jangan nasihati aku'. 'Aku sudah kenyang nasihat'. 'Beri aku jalan keluar konkrit'. (hal. 228)
Manusia berevolusi. Herbert Spencer dan Charles Darwin penggagasnya, dengan sebuah adagium survival of the fittest. Bukan yang terkuat yang dapat bertahan. Yang paling adaptiflah yang akan lulus seleksi alam, melewati sekian banyak rintangan. Mereka yang segera dapat menyesuaikan diri akan berhasil mengatasi rintangan secara alamiah yang muncul berkelindan dalam sejarah peradaban manusia. (hal. 230)
Teori mendasar dari psikologi berkata: bila kehilangan waktu, kita harus menggantinya dengan sejumlah porsi yang ditinggalkan. (hal. 231)
Kebaikan konon dianggap serupa energi, tak pernah hilang dan akan muncul dalam wujud lain di tempat yang tepat. (hal. 234)
Senyum menstimulus diri untuk gembira. (hal. 244)

Komentar
Posting Komentar